Qurrota ‘Ayun

Qurrota ‘Ayun

Cerita Sang Penghafal Al-Qur’an

Bismillahirrohmanirrohim

Di hari Jum’at yang penuh berkah, ingin berbagi sedikit motivasi sederhana,

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Dari sebuah tulisan yang penuh harap siapapun yang membaca termotivasi menghafal Al Qur’an dan menjaga Al Qur’an nya. Semoga Bermanfaat,

 

Suatu hari..

“Ketika langit telah menghitam, pertanda apakah itu? Hujan kah? Badai kah? Ataukah itu pertanda telah sampai masanya kita berlabuh?”
Aku termenung duduk dipinggir kolam itu, angin sepoi melambai halus menyentuh kulit wajahku. Andaikan angin mengerti suaraku, ia akan menjadi teman terbaikku. Aku berjanji, ya aku berjanji. Ah nyatanya akulah yang tak mengerti suara alam.
Sambil mendengarkan lantunan merdu suara syeikh Abdurrahman Al Ausy dari gawaiku, kertas putih itu telah lama terisi kata demi kata akibat tarian tangan yang sangat aku nikmati. Ingin aku ceritakan semuanya. “Mau kah kau mendengarnya?” diam, dan akan tetap diam. Tak ada jawaban. Hanya saja angin memberi tanda dengan bertiup lebih kencang. Membuatku terhenyak, aku harus melanjutkan cerita.
Aku akan bercerita tentang sebuah penyesalan, ah bukan. Lebih tepatnya, pembelajaran.

Kau tahu? Dulu aku mempunyai seorang teman. Ia sangat pendiam. Tak banyak yang ingin ia ceritakan tentang dirinya pada siapapun, bahkan dengan diriku. Ia seorang teman yang bertelinga emas. Cerita apapun dariku, Ia siap mendengarkan kapan pun. Sedih, bahagia, kesal, kecewa, dan berbagai rasa, aku amanahkan padanya. Ya, hanya dia. Teman baikku. Yang kemudian hari aku akan menyesalinya.

Qurrota ‘Ayun namanya. Ia biasa dipanggil Ata. Anaknya manis, tak banyak bicara, murah senyum, ringan tangan, tinggi kurang lebih 157 cm. Kulit sawo matang khas keturunan jawa. Ia berpenampilan sangat sederhana namun menyenangkan mata. Bahkan penampilannya mampu menundukkan pandangan liar kebanyakan lelaki. Ia berjilbab panjang menutup dada.

Ata merupakan salah satu santri di sebuah pesantren, berbeda jauh dengan aku yang hanya anak SMA biasa, jilbabku semi modern, teman-temanku bukan teman-teman yang mengerti tentang agama. Dia seorang anak dari kalangan berada sebenarnya. Namun kepribadiannya, menjadikan tak banyak orang mengetahui itu.

Pertama kali aku bertemu dengannya ketika ia ditugaskan dari pesantren tempat ia belajar untuk mengabdi di daerah kami. Saat itu, di hari pertama ia keliling desa. Ia amat ramah, seluruh warga yang ditemui baik muda, dewasa, anak-anak, orang tua, bapak-ibu, semuanya di sapa dan ia menyapa ku.

“Assalamu’alaikum, hai salam kenal. Ata” Sapa dia sambil mengulurkan tangan.
“Wa’alaikumussalam, salam kenal juga. Kirana” Aku membalas.
“Senang bertemu denganmu, Kirana. Semoga kita menjadi teman yang baik”
“Ee, iya senang bertemu dengan mu juga, Ata” Aku sedikit gugup. Genggamannya kuat sekali.

Ia mengajarkanku tentang kehidupan, seperti air mengalir yang terus jernih, hanya kebermanfaatan yang ia tebarkan. Jika kita dapat menemukan sisi baik kehidupan, kita akan bertemu dengan sisi terbaik diri kita. Ku harap kau percaya itu.
Sejak perkenalan sore itu, kami menjadi teman yang sangat akrab. Mungkin karena kami seumuran. Kemana-mana kami berdua, beberapa kegiatan keagamaan di desa, kami sering menjadi panitianya. Satu hal yang aku tau dari dia, dia tidak pernah melewatkan tilawah Qur’an minimal 1 juz perhari. Aku kagum padanya. Bacaan Qur’annya juga bagus. Wajar saja dia mampu mengajar mengaji anak-anak di desa kami. Bahkan penduduk desa memanggilnya ustadzah.
Dia mempunyai Al Qur’an kecil yang dibawanya kemana-mana. Al-Qur’an itu sudah tidak bagus lagi, sampulnya sudah robek, warnanya sudah kusam. Dan resletingnya sudah macet. Namun ia tetap menyukai Al Qur’annya. Sampai akhirnya aku bertanya,
“Ata, boleh gak aku nanya?” Tanya ku saat ia baru saja mengkhatamkan tilawah rutinnya 1 juz Al Qur’an.
“Emm, nanya apa?” Jawabnya
“Kenapa Ata ngga ganti Al-Qur’an aja? Al Qur’an kan gak terlalu mahal” Kata ku
Ata tersenyum mendengar pertanyaan ku.
“Karena ini pemberian orang tuaku,” jawab Ata sambil memasukkan Al Qur’annya di dalam tas.
Aku mengangguk, tapi masih merasa belum puas dengan jawabannya.
“Ayo sekarang kita pergi” Ajak Ata tiba-tiba.
“Kemana? Bukannya tugas kita udah selesai?” Jawabku malas.
“Ada deh, yuk ah. Terlambat nanti” Kata Ata membuatku penasaran.
Aku pun beranjak dengan malas. Ku ikuti ia pergi.
Perjalanan yang kami lalui ternyata sangat jauh. Meskipun aku asli putri daerah, tapi tetap saja tempat itu asing bagi ku. Kami melewati gang-gang sempit, area persawahan, sungai-sungai kecil, yang kotor dan bau. Aku tidak pernah kesana.
“Ata, masih jauh ya? Kita mau kemana, sih?” Aku bersungut.
“Nggak, bentar lagi sampai kok. Sabar yaa” Seru Ata menenangkan.
Aku merasa daerah ini seperti area pembuangan. Bau menyengat, lalat dimana-mana. Sungguh pemandangan yang tidak menyenangkan. Hampir saja aku menginjak sebungkus nasi busuk yang sudah berlendir. Aku mulai kesal. Aku heran Ata biasa saja melewati daerah itu, bahkan terkadang dia dengan ramah menyapa warga yang tinggal disekitaran tempat tersebut.
Aku melihat dia membawa macam-macam barang dalam kantong plastik. Aku tidak tau isinya apa.

“Ata, masih lama kah? Disini kotor sekali” aku mengeluh
Ata malah tersenyum.
“InsyaAllah sebentar lagi”
“Huft, dari tadi sebentar lagi” aku protes
Tak berapa lama kemudian,
“Nah, kita sampai. Itu rumah yang kita tuju”
Aku melihat sebuah gubuk yang dia tunjuk. Awalnya aku bingung. Mana ada rumah disini. Yang aku tahu, disana hanya ada gubuk kecil yang hampir saja roboh. Kondisinya sangat buruk namun bersih. Apakah itu bisa disebut rumah? Entahlah.
Kami, mendatangi rumah itu.
“Assalamu’alaikum…” Ata mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum Pandu” salam Ata kedua kalinya
“Wa’alaikumussalam kak Ata’?”
Kami masuk kedalam rumah, aku terkejut.Seorang anak lelaki kecil berumur sekitar 9 tahun dengan kaki yang tidak lengkap lagi tertatih mengahampiri kami. Nampaknya inilah anak yang bernama Pandu itu. Tidak ku sangka, dia ternyata buta. Ku ketahui itu saat Pandu ingin bersalaman dengan Ata, namun tangannya menghadap kearahku. Dia nampak bahagia sekali Ata mengunjunginya.
“Ini bu kan kak Ata yaa?” tiba-tiba ekspresinya berubah saat tau bukan Ata yang di salaminya
“Hhe, itu temen kakak. Namanya kak Kirana. Dia cantik dan baik lo” kata Ata sambil memegang tangannya Pandu. Aku hanya terdiam.
“Kakak hari ini mau masak bubur lagi kan? Kakak kemarin janji sama Pandu” kata Pandu berharap. Dia tidak terlalu peduli dengan kehadiranku.

“Iya dong, hadiah special buat anak sholeh. Yang udah berhasi hafal bacaan sholat” kata Ata. Mereka tampak sangat akrab.
“Yeey, Alhamdulillah. Terimakasih kak Ata. Kak Ata pasti lebih cantik dari temen kakak itu” kata Pandu menyindir ku.
Ata tertawa, aku sedikit kesal. Simpati ku pada Pandu jadi berkurang.
“Jangan marah ya kak Kirana, kalau aku bisa melihat pasti aku bisa menilai dengan adil siapa yang paling cantik, hhe” seloroh Pandu
Aku sedikit terhenyak dengan kalimat Pandu barusan. Ya, dia tidak bisa melihat. Simpati ku padanya bertambah kembali.
“Ahh, gak masalah, asal bubur kamu nanti untuk kakak yaa” ledekku
“Jangan, gak boleh itu khusus buat Pandu. Kak Kirana gak boleh kesini kalo mau ambil bubur Pandu” jawabnya serius
Duh, aku jadi merasa salah bicara. Aku memberi kode ke Ata.
Akhirnya Ata mengeluarkan isi bungkusan yang dia bawa. Yang barusan ku ketahui isinya adalah bahan-bahan untuk membuat bubur.
Bagi Ata yang terbiasa dengan urusan dapur, tidak terlalu sulit menyiapkan bubur kacang hijau untuk Pandu. Peralatan masak ternyata telah rapi disimpan di tempat yang telah diketahui oleh Ata. Aku menduga, Ata lah yang membeli dan menyimpan alat tersebut.
Setelah bubur matang kami pun asyik makan bersama. Sesekali kami saling bercanda. Ada rasa berbeda dalam hati ku kini. Aku merasa amat bahagia. Rumah pandu memang terletak tidak jauh dari tempat pembuangan akhir. Namun aroma busuk dari sampah tersebut tidak terlalu menyengat apalagi dibelakang rumah pandu ada pohon rindang bersama dipan bambu dibawahnya. Dan tempat ini bersih. Angin sepoi-sepoi turut hadir ditengah kebahagiaan kami. 3 anak muda yang saling menyayangi InsyaAllah.
Setelah selesai, dengan sigap Ata mencuci dan membereskan tempat makan sekaligus peralatan masak. Dikembalikan ke tempat semula. Aku terharu melihat Ata.
“Kak kirana, gak boleh melamun” kata Pandu mengejutkanku
Tau darimana Pandu aku melamun..
“Nggak kok, gak melamun” kata ku sambil cengengesan.
“Jangan bohong, dari tadi aku panggilin diam aja” jawab Pandu.
“Hai, aku udah selesai. Yuk Pandu kita kemasjid nanti kamu terlambat lo sholat jum’atnya. Udah wudhu kan?” seru Ata memotong percakapan kami.
“Udah dong..” jawab Pandu
Hah, pandu wudhu? Gimana caranya? Tanyaku dalam hati sambil memperhatikan Pandu.
“Okreyy, yuk caw. Bismillah” kata Ata.
Akhirnya kami bertiga berjalan bertiga menuju masjid.

Sesampainya di masjid banyak warga yang menyapa Pandu dan menuntun Pandu masuk kedalam.
Setelah selesai, kami pulang bersama. Sampai di rumah Pandu kami pun ijin pamit.
Diperjalanan pulang aku bertanya pada Ata.
“Ata, kenapa kau mau melakukan ini?” tanyaku heran.
“Melakukan apa?” tanya Ata.
“Kenapa kau baik pada semua orang? Bahkan kau rela jauh-jauh kesini untuk menolong Pandu”
“Karena aku ingin bahagia” kata Ata sambil tersenyum
“Bahagia?”, aku masih tidak mengerti dengan jalan berpikirnya.
“Apa perasaan mu sekarang? Kamu merasakan sesuatu?” Tanya Ata
“Ehmm, iya sih aku merasa ada sesuatu yang lepas dari diriku. Aku merasa lebih bahagia dan lebih ringan” jawab ku
“Itu lah yang aku cari” jawab Ata
Aku mengangguk mulai memahami. “Jadi kesimpulannya, jika kia berbuat baik maka kita akan bahagia ya?”
“yups, bethol sekali, ketika kamu berbuat baik, maka kamu akan bahagia”.
Aku menyimak apa yang dia sampaikan.
“Kirana, kita hidup itu bukan hanya sekedar hidup. Kita tidak tau kebaikan mana yang akan mengantarkan kita kepada kebaikan-kebaikan lainnya. Dan kita tidak tau kebaikan mana yang menjadi pemberat amal kebaikan diakhirat nanti. Kita juga tidak tau, kebaikan apa yang menjadikan Allah ridho dan suka. Bukankah kita berbuat baik hanya agar Allah ridho dan sayang sama kita? Karena setelah Allah ridho dan sayang sama kita, urusan kita akan Allah permudah, insyaAllah. Maka teruslah berbuat kebaikan sekecil apapun itu, se lelah apa kita dan se tidak berharganya itu bagi orang lain. Dan kau tau, hebatnya kebaikan itu seperti sinar lampu dan cermin di dalam gelap. ”
“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti
“Sinar lampu yang hidup di dalam gelap akan menyinari ruangan di sekitar lampu tersebut. Dan, jika setiap sudut ruangan mempunyai cermin yang berhadapan, maka ia akan memantulkan cahayanya dan menyinari ke setiap ruang yang ada cerminnya. Seperti itulah kebaikan, sekali kita berbuat baik, maka kebaikan itu akan memantul dan menularkan ke yang lain, bahkan akan kembali kepada kita dengan cahaya yang lebih terang. Hebat bukan? Dan salah satu cahanya adalah kebahagiaan”
Hem, baiklah. Kini di sepanjang perjalanan pulang aku diam merenungi setiap perkataan yang disampaikan Ata.
Sesampainya dirumah, aku berwudhu dan bersiap sholat ashar. Aku ingin menyiapkan sesuatu yang amat berharga. Untuk Ata. Ata pasti suka. Harapku.
Selepas sholat Ashar. Aku segera mandi. Aku kenakan baju yang bersih, ku ambil celengan ayam ku yang aku rasa sudah hampir penuh. Hari Rabu saat ulang tahunnya, Ata harus menerima hadiah special dari ku. Gumam ku girang. Aku ingin dia bahagia dan aku juga bahagia. Ya, ingin bahagia.


“Kirana, bagaimana matahari pagi kan tersenyum, jika kau semuram itu.”
“Ayolah, hari ini adalah hari yang baik. Percaya padaku!” katanya mantap dengan senyum yang merekah
“Untuk apa kau kesini? Kau sudah tidak menganggapku sebagai teman!” jawab ku ketus
“Maksudmu?” tanyanya tidak mengerti
“Kau bahkan sampai saat ini tidak mau mengganti Al Qur’an mu! Aku lihat sejak kemarin, masih saja kau membaca Al Qur’an itu. Kamu gak tau apa? Aku tu juga sayang sama kamu, aku pengen lihat kamu gak repot lagi kalau mau baca Al Qur’an. Aku juga pengen dapet pahala jariyah dari Al Qur’an yang kamu baca itu. Karena…” tiba-tiba suaraku tercekat ditenggorokkan.
”Karena, karena aku memang belum pandai membaca Al Qur’an.” Jawab ku keras. Aku menanahan tangis.
Ata diam…
“Maafkan aku Kirana, jika aku mengecewakanmu. Aku sangat menyukai Al qur’an pemberianmu. Namun, untuk saat ini, memang aku belum bisa mengganti Al Qur’an itu. InsyaAllah Allah tetap menghitung untuk mu pahala, karena niat mu. Aku yakin Allah menyukai perbuatan mu.”
“Dasar keras kepala, Al Qur’an mu itu sudah jelek Ta, sadarlah!” Aku tutup pintu rumahku dengan keras, aku menangis dibalik pintu”
Detik itu aku merasa menyesal berteman dengannya. Detik itu juga aku beranggapan dia teman yang jahat.
Di balik pintu aku mendengar Ia menangis, dengan suara lirih ia bilang, “Terimakasih Kirana atas semua kebaikanmu, aku juga sangat menyukai Al Qur’an pemberianmu. tapi mohon maaf. Untuk saat ini aku belum bisa mengganti Al Qur’an ku. Aku sangat menyukai Al Qur’an yang aku pakai saat ini, meskipun ini tidak bagus, Al Qur’an ini di beli dari uang orang tua ku. Aku berharap, dengan aku rajin membaca dan menghafal Al-Qur’an ini, pahala mengalir untuk ayah bunda ku. Memang aku bisa membeli dan mengganti Al Qur’an kapanpun aku mau. Namun, aku takut dengan satu Al Qur’an ini aku belum mampu mempertanggung jawabkannya kelak dihadapan Allah. Aku sangat mencintai Al Qur’an ini. Dengan satu Al Qur’an ini, belum tentu aku mampu menghafal nya, memahami seluruh maknanya, bahkan dengan satu Al Qur’an saja belum tentu aku membacanya dan mengamalkannya setiap hari. Lalu apa yang hendak aku katakan pada Rabb ku kelak? Bagaimana aku akan mempertanggung jawabkannya? Bagaimana aku kan menolong orang tua ku diakhirat kelak, padahal aku yang tidak amanah terhadap pemberiannya. Aku mencintai Al Qur’an ini tapi aku takut, aku takut Allah melaknatku melalui Al Qur’an ini.

Sungguh aku takut. Aku harap kau mengerti” lalu Ata pergi meninggalkan aku yang terdiam.
Aku terkejut dengan penjelasan Ata, tanpa aku sadari, ada sesuatu yang menelusuk kedalam hati ku. Dalam, sangat dalam. Hingga bulir mata semakin deras membasahi pipi. Aku merasa menyesal lalu takut, ku buka pintu perlahan. Tapi sosoknya sudah hilang.
Sejak pagi itu sampai sore Ata tidak kerumah ku. Bahkan di balai desa Ata juga tidak kelihatan. Saat kutanyakan ke yang lain, tidak ada yang tau Ata kemana. Hem, barangkali Ata masih marah pada ku. Aku yakin InsyaAllah besok Ata sudah nyamperin aku. Karena Ata berbeda, Ia tidak akan pernah menyimpan dendam, dan tidak akan pernah menyimpan marah berlarut-larut. Aku yakin dia sangat pemaaf. Batin ku menenangkan.

Esok harinya, masih saja aku tidak melihat Ata. Bahkan ia tidak mengunjungi ku. Aku coba ke rumah pak RT tempat dia tinggal selama mengabdi. Dia tidak ada, kata pak RT sudah 2 hari Ata pergi. Kemarin pamit pergi karena katanya ada keluargannya yang sakit. Baiklah, aku lebih tenang karena dia pergi bukan karena marah padaku. Diperjalanan pulang, tiba-tiba aku ingat Pandu. Hari ini hari Jum’at, kalau Ata tidak ada, siapa yang akan mengantarkan Pandu sholat Jum’at? Dengan memantapkan hati, aku segera pulang kerumah mengambil sepeda untuk mengunjungi Pandu. Hampir saja aku lupa jalan kesana, karena baru sekali aku mengunjungi pandu saat bersama Ata waktu itu. Kau tau, aku tidak se sabar Ata, jadi dihari-hari berikutnya setelah hari itu, aku tidak mau lagi diajak mengunjungi Pandu. Paling tidak aku menitipkan ke Ata beberapa makanan, mainan bahkan juga pakaian. Akhirnya setelah kesasar beberapa kali, aku menemukan tempat tinggal Pandu.

“Alhamdulillah tidak terlambat,” kata ku bersyukur melihat jam di tangan ku yang masih menunjukkan pukul 10.20.
Ku parkirkan sepeda ku di dekat tumpukan barang rongsokkan. Ragu-ragu aku mengucapkan salam. Tidak ada yang menyahut, kuulangi sekali lagi tidak ada yang menyahut. Kuberanikan masuk kedalam gubuk tersebut, ternyata tidak ada orang. Barangkali, Pandu sudah berangkat ke masjid pikirku. Entah kenapa aku menjadi sangat peduli padanya, ada perasaan aneh dalam diriku yang begitu kuat. Ingin bertemu dengannya.
Akhirnya aku mencoba mendatangi masjid tempat biasa Pandu sholat jum’at. Sesampainya disana ternyata Pandu juga tidak ada. Coba ku tanyakan kepada bapak-bapak yang ada dimasjid tersebut.
“Oo Pandu, nak Pandu sudah 3 hari ini sakit neng, sekarang dia ada di Rumah sakit. 2 Hari yang lalu neng Ata yang mengantar nya ke Rumah Sakit” kata bapak itu.
Aku terhenyak, ternyata itu adalah Pandu. Setelah ku tanyakan nama rumah sakitnya aku bergegas menuju kesana. Sebelum pergi bapak itu menitip salam dan beberapa lembar uang untuk Pandu. Beliau mengatakan, “Terimakasih ya nak, kalian anak muda yang sangat baik. Warga disini bukan tidak mau merawat Pandu.

Kalian tau sendiri kami juga dari keluarga yang sangat sederhana, kami hanya mampu merawat Pandu ala kadarnya, tidak mampu membawanya ke rumah sakit. Neng Ata, sudah mengajarkan kepada kami tentang kepedulian kepada sesama. Bapak hanya bisa bantu segini untuk kesembuhan Pandu. Semoga eneng dan neng Ata selalu diberi kesehaan dan di murahkan rezekinya. Aamiin”Ku aminkan do’a bapak tersebut. Aku segera beranjak pergi. Ku kayuh sepeda ku dengan cepat, aku benar-benar merasa sedih dan menyesal telah melakukan kesalahan pada Ata.
Sesampainya di rumah sakit. Aku mencari kamar Pandu, ku temukan kamarnya. Aku heran ia berada dikamar VIV, ku ketuk pintu kamar itu.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam warrahmatullah”
Ku buka perlahan kamar itu, tampak Pandu sedang berbaring lemas di ranjang dekat jendela. Kamar itu cukup luas, memiliki satu ranjang besar, dan sofa dengan warna coklat muda. Dilengkapi dengan tv dan lemari pendingin. Sungguh kamar yang nyaman. Saat ku cek dibagian pembayaran, Ata lah yang membayarnya. Detik itulah aku baru tau dia dari kalangan orang berada.
“Pandu ini kak Kirana, Pandu masih ingat?”
Sapa ku. Terlihat untuk anak seusia ini, dia amat kuat.
“Kak Kirana, insyaAllah Pandu masih ingat. Kak Ata sering menceritakan tentang kakak padaku”
Tidak kah Ata menceritakan permasalahan kami waktu itu? Semoga tidak.
“Kak Kirana menghadiahi kak Ata Al Qur’an ya..? Al qur’annya bagus sekali kata kak Ata. Pandu juga pengen. Tapi…”
“InsyaAllah nanti kakak belikan Pandu Al Qur’an Braille untuk Pandu ya. Yang penting Pandu cepat sembuh. Oke” hiburku
“Yey, Alhamdulillah.. ternyata memang benar kata kak Ata. Kak Kirana juga orang baik” seru Pandu.
“ehm, ngomong-ngomong kak Ata kemana Pandu?” aku melihat sekeliling dari tadi Ata tidak ada.
“Mungkin sedang ke apotik kak. Pas Pandu bangun kak Ata sudah tidak disini”
Lama menunggu Ata, akhirnya kami saling bercerita. Baru ku ketahui ternyata Pandu sangat terbuka. Meskipun dalam keadaan sakit, dia masih semangat bercerita. Akhirnya ia menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Ata. Dia juga menceritakan tentang hidupnya dan keluarganya. Sungguh membuat ku tak kuat menahan air mata. Bagiku anak sekecil ini amat kuat, ya amat kuat. insyaAllah lain kali akan ku ceritakan bagian ini di ceritaku yang lain.
Tiba-tiba setelah asyik bercerita, aku mendapatkan kabar yang amat mengejutkan. Tentang Ata..
Aku belum sanggup menceritakannya, saat menulis ini aku menahan bulir mata ini jatuh. Aku berharap mata ini berhenti basah. Semoga aku juga bisa menceritakan bagian ini padamu di lain waktu.


“Terimakasih Ata, sudah menyadarkan aku”
Ata, bagaimana kabarmu kini? bagaimanakah rasa kematian itu? Apakah kau takut? Rindukah kau dengan ku? Ibumu? Ayahmu? Adikmu? Bagaimanakah saat kau bertemu malaikat Munkar dan Nakir. Mengerikankah mereka? Sendirian kah kamu saat ini? Sungguh aku penasaran. Aku merindukan mu Ta.
Aku yakin kau sekarang sedang berbahagia dengan Al Qur’an yang sering kau baca dan dengan dengan pahala kebaikan-kebaikan yang telah kau selesaikan di dunia.
Ata, hari ini aku kembali bertemu dengan Pandu, dia merindukanmu. Merindukan bubur buatanmu, merindukan lantunan Al Qur’an dari bibirmu, dan merindukan kisah-kisah heroik pahlawan islam yang sering kamu ceritakan.
Kau tahu, dia menangis saat tau kau tak akan lagi bisa menemuinya.
“Kak, jadi nanti siapa yang setiap hari Jum’at bantuin pandu sholat ke masjid? Siapa yang akan memasakkan bubur untuk Pandu lagi?” kata pandu disela-sela tangisnya.
Aku terdiam. aku takut tidak bisa menjadi penggantimu Ta’. Kau tau kan betapa tidak sabarnya aku.
Hari itu, daun-daun kering berguguran. Seolah bumi membisu. Burung-burung berhenti berkicau. Pilu amat pilu…
Terimakasih juga Ta’, berkat teladan yang kamu berikan aku jadi memiliki cita-cita untuk nyantri, aku bercita-cita untuk menjadi ahli Al-Qur’an dan mengajarkan Al-Qur’an pada semua orang. Mengabdikan diri untuk umat. Berkat mu juga, kini aku memiliki banyak teman baik. Benar katamu, jika kita tidak bisa bertemu dengan orang baik, maka menjadilah baik agar orang disekelilingmu ikut baik. Karena kebaikan itu menular. Ya benar sekali, kebaikan itu akan menular, kau tau kini aku juga berjilbab panjang sepertimu.

Aku menyesal menganggapmu hanya sebagai teman baik, nyatanya kau adalah teman terbaikku di dunia dan akhirat InsyaAllah…
“Persahabatan kita bukan tentang sering bepergian bersama. Menghabiskan banyak waktu untuk membagi cerita sepanjang hari. Persahabatan kita adalah rangkaian do’a-do’a yang melangit, memohonkan kebaikan-kebaikan untuk mengeratkan hati kita satu sama lainnya. Dan aku, bahagia menjadi sahabatmu. Dengan syarat sederhana, dengan ketulusan tanpa pura-pura”(Anonim)
InsyaAllah kita kan bertemu dan bertetangga di Surga.

Aamiin Yaa Rabb, kabulkanlah…

 

 

 

Penulis : Lailatun Nur Rohmah

Editor : Tim Markom Kampoeng Tauhiid Sriwijaya