PERJALANAN MENUJU BEASISWA PART 1

PERJALANAN MENUJU BEASISWA PART 1

PERJALAN MENUJU BEASISWA
PART I
Panggil saja saya ***da, Saya lahir di Indralaya, 17 Juli 2000.
Saya merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.
Ayah saya merupakan salah satu karyawan pabrik dan juga pandai dalam hal menggambar, termasuk membuat sketsa rumah, denah lokasi, dan dunia pertukangan. Tak heran apabila saya mempunyai hobi sama yang berhubungan dengan sastra dan seni.
Saya terlahir dari rahim seorang wanita yang begitu amat luar biasa, penuh kasih sayang, penyabar, dan baik. Iya, dialah Ibu sang inspirasi hidup saya.
Pada tahun 2005 saya sekolah di salah satu TK Islam yang tempatnya tak jauh dari desa.
Tepat pada tahun 2006-2012 saja melanjutkan pendidikan ke tingkat SD.
Sang Ibulah yang selalu mengantar saya sekolah dilengkapi dengan kendaraan favoritnya yang nyaris menguras tenaga dan mencucurkan keringat ketika menggunakannya.
Sekadar melepas penat ayah selalu mengajak saya berkeliling setiap sore seusai pulang kerja.
Tapi mereka tak pernah mengeluh dan menampakkan wajah letihnya. Ia tetap tersenyum menebar canda dan tawa. Rasanya saya ingin selalu memandang senyum manisnya. Namun, ada satu hari dimana saya tidak bisa melupakan moment itu. Perlahan senyum itu mulai memudar, canda dan tawa berubah hening bahkan bergantikan oleh derasnya air hujan. Tak pernah terbayangkan itu bisa terjadi.
Pagi itu, Ia berpaminat menuju tempat dinasnya seperti biasa, namun saya jumpai dia pulang menggunakan kendaraan yang berbeda, di kawal dengan banyak orang, menggunakn pakaian yang sangat berbeda dari yang lain. Tak bisa saya ucapkan satu kata pun kala itu selain air hujan yang terus mengalir di pipi mungil ini.
Saat itu saya berusia 6 tahun. Dan harus merasakan kehilangan yang begitu amat menyakitkan. Bendera kuning mulai terpasang dan orang beramai-ramai untuk menghantarkannya ke peristirahatan terakhir.
Iya, dialah Ayah sang motivator hidup saya.
Namun, saya harus bangkit dari keterpurukan itu, karena masih ada orang yang harus saya bahagiakan dan harus membuatnya selalu tersenyum, ialah ibu. Harus bisa menjadi contoh yang baik dan motivator untuk sang adik.
Semangat belajar terus membara di jiwa, hingga saya melanjutkan sekolah di SMP Negeri 02 Indralaya Utara dengan mempertahankan prestasi di 3 besar sampai saya lulus.
Tak mudah memang melewati semua ini, Namun karena Ibu saya menjadi kuat dan mandiri.
Selanjutnya saya yakin mantapkan diri untuk terus berpendidikan tinggi, melanjutkan ketingkat SMA tak tahu harus bersyukur dengan bagai mana lagi, bahagianya saya diterima di salah satu sekolah bergengsi yaitu SMA Negeri 1 Indralaya Utara yang kurang lebih memakan waktu 25 menit untuk menuju kesana dengan kendaraan motor sederhana peninggalan sang ayah.
Masa Putih Abu telah selesai saya tempuh, Maju terus pantang mundur yakinkan diri harus bisa jadi orang yang sukses!
Mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru. Berusaha keras demi membanggakan sang ibu yang mulai rentan dan sang ayah yang telah tenang disana
Do’a tak hentinya saya panjatkan setiap keheningan malam. Mengirim lamaran kerja sana sini tak membuat saya putus asa demi mewujudkan besarnya cita-cita.
Beberapa panggilan interview saya jalani, ikhtiar dan do’a yang hanya bisa saya lakukan. Kodarullah semua terjadi ats izin Allah, Dialah yang maha tau yang terbaik untuk hambanya. Saya merasakan kedekatan saya dengan-Nya meyakinkan hati ini bahwa ada sesuatu yang sangat indah di depan sana.
Yaaa.. Pondok Pesantren At-Tauhiid. Yayasan Kampoeng Tauhiid Sriwijaya yang di kepalai oleh Ustadz Ali Efendi selaku orang terpandang di daerah kami. Lembaga yang mempunyai program pemberdaya ummat dan Beasiswa Mahasiswa. Dengan restu sang ibu saya akhirnya memutuskan untuk mengabdi mengikuti besiswa Mahasiswa itu untuk menpuh pendidikan S1.
Satu kalimat yang ibu katakan pada saya bahwa “Ibu menganggapmu belajar di Pondok Pesantren bukan bekerja, jadi jangan lihat sebesar apapun nominal yang di dapatkan, tapi lihatlah seberapa banyak pengalaman yang kamu dapatkan dan menjadi bermanfaat untuk banyak orang”. Ibu selalu mengajarkan saya tentang kesederhanaan dan rasa syukur atas segala sesuatu serta mendidik anak-anaknya untuk bisa menjadi mandiri.
Alhamdulillah kurang lebih sudah 2 tahun saya berkontribusi meanjadi bagian dari keluarga Kampoeng Tauhiid Sriwijaya tak ada kerugian sedikitpun yang saya dapatkan, karena saya yakin tempat inilah yang akan membawa saya lebih dekat dengan cita-cita dan Sang Maha Pencipta.
Terimakasih Kampoeng Tauhiid Sriwijaya 🙏🏻

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *